Menahan Rindu, Karena Keterpaksaan

gambar : picsart.com


Menahan rindu bisa jadi merupakan pilihan sebagai bentuk kedewasaan diri seseorang karena dia yakin pertemuan yang diharap-harapkannya memang belum saatnya untuk terjadi.

Dia sadar bahwa banyak hal yang perlu dipersiapkan agar pertemuan itu menjadi sesuatu yang lebih indah nantinya.


Namun, menahan rindu juga bisa sebagai sebuah keterpaksaan yang memang harus seseorang lakukan. Keadaan lah yang memaksanya untuk menahan rindu.

Berbeda dengan menahan rindu sebagai pilihan, menahan rindu karena keterpaksaan rasanya lebih sulit untuk dijalani. Hal itu dapat digambarkan seperti dia yang selangkah lagi menuju suatu tempat namun dihalangi suatu tembok besar.
 

Dua hal yang sering saya jumpai ini memungkinkan seseorang untuk menahan rindu sebagai sebuah keterpaksaan. Jika kita menjumpai orang-orang seperti ini, baiknya kita bersimpati


1. Dua insan yang saling jatuh hati, namun sangat ditentang oleh orang tua

Mereka sudah begitu yakin dengan pilihan hati. Namun mereka terhalangi kenihilan restu dari kedua orang tua.

Di satu sisi mereka sangat ingin melampiaskan rindu dengan sebuah pertemuan namun disisi yang lain mereka tak mungkin melawan orang tua mereka.

Dilema seperti ini sangatlah membingungkan untuk dua insan yang mungkin belum sepenuhnya memahami realita hidup sehingga orang tua melarang keras mereka menjalin hubungan.

Tapi rindu tetaplah rindu. Mereka pun harus terus memperjuangkannya sampai mereka menang atau betul-betul kalah.


2. Orang tua yang bercerai lalu merindukan anaknya

Saya memasukkan kejadian ini bukan karena sering melihatnya di film-film atau berita infotaiment. Saya menjumpai langsung kejadian ini dalam kehidupan nyata saya.

Ayah saya menikah lagi dengan seorang wanita yang sudah lama bercerai dengan suaminya. BEliau sudah memiliki satu orang anak. Akan tetapi, beliau sangat sulit untuk menemui anaknya karena dilarang dan dibatasi oleh mantan suaminya.

Saya belum bisa memahami apa ada alasan yang tepat melarang orang tua untuk menemui darah dagingnya sendiri.  

Rindu tetaplah rindu. Dia mungkin hanya bisa berharap bisa punya kesempatan untuk menemui anaknya walaupun secara diam-diam.

Comments