Sosok Indah dalam Lelap

Ini berawal dari perbincangan ringan, mengarah ke berat, antara aku dan mas Rudi. 

Mas Rudi berkata padaku : "Mas, sampeyan pernah denger hadits tentang Nabi menikahi Aisyah nda ? Hadits itu menceritakan bahwa Nabi sudah memimpikan Aisyah sebelum menikahinya (Riwayat Bukhori, 3895)."

"Saya belum pernah dengar", jawabku. "coba ceritain lebih lanjut mas".

Mas Rudi pun melanjutkan, "Dulu aku udah pernah mengkajinya mas. Tapi pengertian yang ku dapat dari kajian itu adalah Nabi menceritakan mimpi itu pada Aisyah sesudah beliau menikah."


 gambar : hijabchicblog.blogspot.com

"berarti nostalgia gitu yak ?" kataku.

"Iya, tapi tadi pagi aku mengkaji hadits itu lagi. Lalu guruku menjelaskan kalau Nabi menceritakan mimpi beliau pada Aisyah sebelum menikahinya."

Mas Rudi melanjutkan, "intinya Nabi berkata pada Aisyah bahwa beliau memimpikannya. Lantas beliau berdoa : ((Jika mimpi ini dari sisi Allah, maka semoga Allah meneruskannya dan mewujudkannya ))."

"Aku dapat kesimpulan gini mas. Terlepas dari pengertian hadits itu yang menjelaskan Nabi menjelaskan ke Aisyah sebelum menikah atau sesudah menikah, tapi kandungan Hadits itu tidak ada keraguan bahwa Nabi bermimpi menikahi Aisyah, lantas Nabi berdoa agar mimpinya itu terwujud."

"Berarti kalau kita memimpikan seseorang lalu kita bahagia dengan mimpi itu, maka kita perlu mendoakannya mas. Jangan biarkan mimpi itu jadi sekedar bunga tidur. Karena kita tahu bahwa kita akan bahagia kalau mimpi itu bisa terwujud."

Aku pun mengangguk-anggukkan kepalaku sebagai tanda bahwa aku memahami apa yang mas Rudi jelaskan. 

Ketika mendengar cerita mas Rudi yang panjang lebar itu, aku pun sembari mengingat-ingat impianku dalam lelap di beberapa hari ini.

Aku masih ingat bahwa ada dua sosok yang seringkali muncul dalam mimpiku beberapa hari belakangan. 

yaitu sosok Mama dan sosok "Dia".


......
sosok Mama sudah beberapa bulan ini jarang sekali muncul. Baru beberapa hari ini sosok Beliau muncul kembali di mimpiku.

Jika membahas impian tentang sosok Mama, maka rasa-rasanya aku telah mengalami tiga fase.

Fase pertama yaitu fase dimana Mama baru saja menutup matanya dari dunia fana ini.

Saat itu aku seringkali bermimpi buruk akan sosoknya yang sedang kesakitan persis seperti yang dialami beliau sebelum wafat.

Fase-fase ini semakin menambah penyesalanku saja, yang ketika masa sakit beliau aku malah tidak sepenuh hati meramut beliaul.

Ah sudahlah, mengenang itu hanya membuat aku kembali membenci diriku sendiri.
Aku hanya perlu memperbaiki semuanya dan berusaha menjadi jariyah pahala untuk beliau. Penyesalan takkan membuat beliau kembali.


Selanjutnya di fase kedua, aku memimpikan sosok Mama dengan wajah berseri-seri.

Jika aku tengok kembali, fase itu adalah fase dimana hidupku berangsur membaik dalam segi dunia dan agama, menurutku.

Fase ini terkadang membuat aku yakin bahwa jalan yang aku tempuh saat itu adalah jalan yang tepat sepenuhnya.
 Jalan yang begitu damai. Pilihan hidup yang sempurna.



Adapun fase ketiga adalah fase saat ini.

Beberapa hari ini aku memimpikan beliau sedang berbaring lalu aku menghampiri beliau dan aku ingin sekali merasakan dekapan hangatnya.

Ini mengingatkan di masa-masa kecilku.
Dulu di setiap malam menjelang tidur, aku selalu saja harus didampingi oleh mama agar aku bisa tidur dengan tenang.

Pokoknya kalau aku belum melihat mama di sampingku, maka aku belum mau menutup mataku.

Bahkan ketika aku terbangun di tengah malam, lalu tidak kudapati sosok mama di sampingku, maka aku akan teriak-teriak memanggil mama supaya bergegas menemaniku kembali.

Manja sekali diriku saat itu.
Aku masih ingat betul momen-momen itu, karena itu berlangsung cukup lama bahkan sampai sekitar aku masuk di kelas 3 SD.

Namun aku tidak ingat, bagaimana akhirnya ritual itu berhenti dan aku sudah terbiasa tidur tanpa harus didampingi mama.

"Saat ini aku ingin kembali didampingi mama". Tepat seperti itu rasanya saat ini.

Saat dimana aku lagi dan lagi kehilangan arah dan motivasi.

Aku tidak tahu ini pertanda apa. Aku hanya tahu aku butuh pegangan motivasi yang kuat.

 gambar : ediakhiles.blogspot.co.id


Di saat ambisiku pasang surut seperti ini lagi, mungkin aku harus sadar bahwa cukuplah beliau untuk bisa mendongkrak kembali motivasiku.

Yang jelas aku sangatlah bahagia, jika aku benar-benar bisa kembali merasakan kasih beliau.

Maka aku pun hanya bisa berdoa : "Jika mimpi ini dari sisi Allah (Aku bisa berjumpa kembali dengan Mama dalam kebahagiaan dan kehangatan), maka Semoga Allah meneruskannya dan mewujudkannya".


....

Bersambung..

Comments