Menjelang Gerbang

gambar : tribunnews.com

aku sadar betul
aku telah menjelang gerbang itu
setelah cukup jengah dengan trek lurus
dan jalan berlubang yang sudah sangat cukup mengganggu

namun aku tak menyangka
sebegini cepatkah aku menjelangnya ?


apakah aku sudah memacunya terlampau kencang,
ataukah ku telah amat terlena memandangi sekitar ?


dan semua terasa begitu mendadak,
meskipun tujuannya tepat, sangat tepat, 
begitu membahagiakan ambisiku.
Namun aku belum siap.
aku belum membaik.


ditambah lagi.
ucapan mereka begitu menyesakkan
membuatku stagnan, stagnan, stagnan.
bahkan aku mundur.


aku memang terbiasa sendiri
namun aku tak terbiasa dimusuhi.

 bahkan aku semakin mundur
dan semakin tak membaik.

aku tahu kebenarannya.
namun aku bahkan begitu takut hanya untuk sekadar menyaksikannya.
rasanya mentalku terlalu lemah untuk memasukinya.

aku memang terbiasa sendiri
namun aku tak terbiasa dimusuhi.

...

Jika bahkan kamu pun memusuhiku,
aku mungkin menyerah.
dan aku akan mundur,  semakin mundur,
lalu berbalik arah.
kembali ke jalan lama.

kamu boleh membayangkan rasanya.
bayangkan jika kamu begitu berambisi dengan sesuatu.
dan tujuanmu telah di depan mata
namun kamu harus kembali,
hanya karena kamu takut.
Aku akan bilang bahwa kamu pengecut. haha. bukan. itu bukan kamu. Aku lah yang pengecut.

tapi semoga juga tidak.

maka pilihanku hanyalah dua
tak ada pilihan ketiga atau diantaranya.
dan kau tak perlu berikan alternatif
karena bahkan kau tak pernah berusaha memahaminya bukan ?

maka pilihanku hanyalah dua.

pertama,
aku kembali namun aku memburuk.

atau
kedua,
aku pergi dan membaik, membaik,  membaik, mungkin bisa jadi memburuk, tapi aku akan berusaha kembali membaik, mungkin memburuk, tapi aku berharap akhirnya akan tetap dan terus membaik, membaik dan membaik.

...

sesungguhnya aku ingin kamu mendampingiku,  menguatkanku.
tapi mungkin percuma.

tapi semoga juga tidak.

Comments